Sabtu, 16 Januari 2010

JIL di Indonesia

JIL (Jaringan Islam Liberal ), keberadaannya cukup mengkhawatirkan. Karena secara sadar atau tidak sudah mulai mempengaruhi pola fikir dalam kehidupan dimasyarakat, atau masyarakat menilai hal-hal yang baik apa yang menjadi isu-isu mereka kembangkan: "pluralisme, kebebasan beragama, atau hal-hal lain yang menjadi istilah baru dalam agama yang menyesatkan.

Sudah cukup dianggap menyesatkan  pemikiran dari JIL ini dengan mengungkapkan pemahaman yang baru dari ayat-ayat Al-Quran dengan mentafsirkan secara serampangan dan tidak sesuai kaidah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tersebut atau bahkan memotong pengertian ayat dengan memelintir maksud dari kandungan ayat tersebut yang disesuaikan dengan tujuan mereka. Mereka menggangap pemahaman yang ke barat-baratan lebih cocok dengan kehidupan yang mereka fikirkan,  contohnya : kawin campur, semua agama itu sama, humanisme dan lain-lain.


Dari milis yang menyuarakan JIL :

tulisan yang dikirim oleh : pratikno.ananto@xxx.com :
Bersumber dari Pendangkalan
Oleh: KH. Axxxx Wxxx

Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?
.........
........
dan seterusnya.

Sampai kapan orang-orang semacam ini hidup diantara kita?
Salah satu alasan ketika Rasulullah berhijrah dari ke makah ke Madinah adalah untuk memisahkan antara orang-orang kafir dengan orang mukmin. Seandainya ada suatu jalan bagi kita ummat Islam ini untuk memisahkan antara orang-orang yang beriman dengan JIL ini. Maka jalan ini harus ditempuh, sehingga kita atau ummat ini faham betul apa siapa sebenarnya JIL itu dan siapa saja tokoh-tokohnya. Sehingga kita terhindar dari Siksa Api Neraka.

Dalam tulisan saya kutip dari :

http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/item/13/JIL_Potensi_No_Ancaman_Yes

........
Akhirnya, dengan sikap dan pandangan-pandangan yang melenceng dari rel Ilahi ini, JIL justru berbahaya bagi umat Islam. Karena, diakui atau tidak, selama JIL masih menyandang kata-kata “Islam” dalam keliberalannya, maka yang terjadi adalah pembusukan Islam dari dalam! Dengan demikian, sama sekali tidak ada potensi yang bisa diharapkan dari JIL. Bahkan sesungguhnya keberadaan mereka merupakan ancaman bagi umat Islam. Kalaupun ada potensi JIL, maka itu adalah potensi mengaburkan pemahaman Islam yang sebenarnya. JIL sangat berpotensi untuk membuat umat Islam ragu-ragu akan kebenaran agamanya sendiri. Jadi, JIL adalah ancaman, bukan potensi (kecuali potensi merusak). Dan, tampaknya kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan JIL yang ter….(kutuk)





0 komentar: